Rabu, 28 Januari 2009

Sebelas Sebelas

Dari satu putaran rotasi bumi yang mengelilingi matahari, titik manakah yang paling kamu tunggu?. Aku selalu menunggu saat dimana bumi sudah akan tiba di titik awal nya, disaat bumi ingin memulai lap barunya. Dimana bumi hampir kelelahan memutari apa yang biasa menyinarinya.Tepatnya dimana bumi mencapai titik yang biasa orang sebut sebagai november. 

Dari 365 hari yang mengurung hidup kita, hari apakah yang paling kamu tunggu? apakah hari ulang tahunmu, saat kamu bisa merayakan dan bersenang-senang menghitung detik-demi detik yang mendekat menjelang waktu kematian. Apakah hari tahun baru? dimana apa yang terjadi pada hari itu sebenarnya sama saja dengan hari-hari lain, dimana satu berganti dua, dua berganti tiga dan seterusnya. Apakah itu hari raya? dimana kamu tak sabar untuk berpesta pora, bersenang-senang, menikmati semua yang Tuhan berikan pada kita, meskipun sebenarnya pada hari itulah satu-satunya hari  dimana kita mensyukuri atau tepatnya menyadari bahwa Ia memang memberi kenikmatan dalam hidup kita.

Bagiku hari yang kutunggu adalah hari ke 11 pada bulan ke 11, terasa dramatik bukan?,  aku tak bisa tidur, selalu tak tenang menjelang hari ke 11 itu, bukan karena aku tak sabar ingin merayakan suatu kesenangan di hari itu, tapi karena aku terlalu gugup, cemas bahkan marah. Karena pada hari itu 15 tahun yang lalu,  segala-galanya ditentukan, suatu kejadian yang membuat hidupku istimewa, istimewa? ya istimewa, bukankah segala sesuatu yang tidak biasa itu bisa disebut dengan istimewa? saat itulah aku tak bisa mengetahui arti dari satu kata yang amat sederhana? yaitu keluarga. Definisi tentang keluarga yang aku ingat sampai sekarang hanyalah suatu kumpulan manusia yang terdiri dari seorang pria berumur yang disebut ayah yang biasa membaca koran sambil meminum kopi, sementara anggota yang lainnya ibu yang bertugas sebagai pelayan ayah, disaat ayah membaca koran ibu malah sibuk berbelanja ke pasar atau mencuci baju. Sebagai pelengkap terdapat sepasang anak, yang mungkin bernama Ani atau Budi, Ya kesemuanya itu kutahu dari buku bahasa indonesia untuk tingkatan 1 sd, keluarga yang amat ideal bagi siapapun, sudah memenuhi target keluarga berencana keluarga macam itu pun tak pernah diceritakan memiliki masalah apapun.sampai sekarang aku masih percaya apa yang buku itu ceritakan.

Aku tak seperti anak-anak panti lainnya, yang merupakan anak-anak yang menyandang status amat sangat tak beruntung. Sudah miskin tak ada pula orang yang cinta mereka. Aku masih menyimpan harapan . meski kadang terbesit sejenak bahwa orangtuaku tak menginginkan aku, tapi pikiran itu hanyalah sebatas lewat seperti kereta api yang melintas saja,  aku amat percaya suatu hari nanti kedua orang tuaku datang. Tepatnya pada tanggal 11 bulan 11, dan itu pulalah yang membuatku amat gugup menjelang tanggal favoritku itu, selalu penasaran dan bertanya seperti apakah ayah ibuku. apakah mereka lebih serasi daripada pasangan selebriti di televisi . karena aku yakin keberadaan ku disini ibaratnya barang titipan, orang tuaku menandatangani semacam kontrak dengan Bu Rahayu, pengurus panti asuhan ini, Bu Rah harus menjagaku hingga batas waktu tertentu, dan karena tanggal perjanjian itu dimulai tanggal 11 november 15 tahun lalu( dimana saat itulah untuk kali pertama aku harus hidup di rumah yatim piatu ini) aku amat yakin,  aku akan diserahkan kembali, dijemput tanggal 11 november juga. Ya itu hal-hal yang membuatku gugup menjelang tanggal 11 november. 

Senin, 26 Januari 2009

Biggest Dream, Biggest Fear

Arya Satya Nugraha ( 16 tahun)

Saya tidak tahu apa alasannya mengapa saya ingin sekali pindah ke New York City, Saya ingin bekerja sebagai executive di perusahaan media raksasa. Entah film apa yang membuat saya berpikiran seperti itu, yang jelas semenjak SD itulah kehidupan yang saya impikan. Tinggal di Pent house mewah di bilangan Manhattan, Menaiki sedan mewah, mempunyai asisten yang mengurus segala jadwal saya, Diundang ke pesta-pesta  bertaburan pemuka masyarakat, pokoknya persis seperti film-film. Semakin besar saya semakin takut, apakah saya bisa mencapai apa yang saya mau, ketakutan terbesar bukan karna saya takut tak bisa mendapatkan itu semua, tapi dikarnakan siapkah saya menghadapi semua itu? ibaratnya saya akan hidup, diterangi jutaan lampu. Mungkinkah saya akan terlalu silau akan kilau gemilang lampu-lampu itu? Saya takut, saya takut melupakan negeri tempat saya lahir dan dibesarkan, saya takut, takut akan hilangnya kenang-kenangan bersama teman-teman semasa dahulu. Saya takut melupakan keluarga saya, tak pernah berkunjung ke orang tua saya lagi, tak ingat siapa nama panjang saudara kandung saya bahkan tak ingat sama sekali pada sepupu saya. Saya takut semua rasa ketimuran saya hilang berganti. Tak ingat lagi akan semua prinsip yang dianut sejak kecil. Dua hal ini begitu kontradiksi, Satu hal  mengenai mimpi terbesar saya, satu halnya lagi mengenai hal yang paling saya takutkan di dunia ini. Dimana saya masih tetap ada pada tubuh yang sama namun jiwa yang mengisinya sudah berbeda.

Biggest Dream, Biggest Mistake?

Oleh ; Mira Pravitasari ( 16 tahun)

16 Tahun. menuju kedewasaan, seharusnya saya sudah bisa memilah mana yang baik, mana yang buruk, dan mimpi-mimpi kekanak-kanakan yang saya sesali.


Masa kecil saya tidak sebegitu mengerikannya mimpi-mimpi saya di masa itu. Mimpi di sini bukanlah bunga tidur yang menghiasi malam-malam masa kanak-kanak saya, bukan. Hanya cita-cita, impian bodoh yang, terwujud secara tragis.

Lahir dan besar dalam pengaruh keluarga besar suku minang yang berisik, saya merasa asing dengan kebudayaan jawa, kebudayaan bapak saya. Bapak saya adalah orang yang sedikit-bicara-banyak-bekerja, anakmu membangkang, maka, pukullah. dengan setetes-dua tetes air mata, banyak pelajaran diambilnya. Saya tidak suka Bapak. Saya benci, benci, dan tidak peduli padanya. Setiap ia minta peluk-cium, kami, kelima anaknya menjauh.
Ia bangun siang dan berangkat kerja, pulang larut, mengemis dibukakan pintu pada ibu, lalu menonton TV sampai pukul dua malam, tidur, dan mengulangi seluruh prosesnya dalam rutinitas membosankan. Ia memberi separuh nafkah, dan separuhnya ditabung. ditabung untuk, akhirnya dihabiskan seluruhnya, pada mobil BMW second-hand yang hanya menjadi beban keluarga karena mogok dan mogok lagi.
Saya benci Bapak dan seluruh keluarga jawanya. Saya benci eyang yang menambahkan gula pada supnya, yang bilang saya tidak boleh menjilat jari-jari sehabis makan, yang bilang saya bukan anak yang baik.
Saya benci jika lebaran harus berdesakan dalam kereta Argolawu dan ketika sampai, disambut oleh om dan tante yang berbicara dalam bahasa yang saya benci. Saya benci menginap di Klaten yang senyap, yang TVnya hanya mendapat siaran TVRI dan INDOSIAR dalam dunia hitam putih yang anehnya, menakutkan.

Saya menanamkan pikiran idiot, 
Saya benci itu semua, saya benci semua Om dan Tante dan Eyang dan sepupu-sepupu Jawa saya. Saya harap Bapak saya pergi, pergi saja. 

kebencian yang saya sadari, berasal dari kemiripan-kemiripan saya dengan mereka. Terkadang orang yang karakternya mirip, saling membenci, bukan?
tapi tetap saja, saya harap Bapak saya pergi.

Impian yang kemudian terwujud pada malam bulan Agustus yang cerah, yang membuat saya yang berumur sebelas tahun terjaga semalaman, yang di kemudian hari, saya sadar bahwa malam itu adalah saat Allah memberi saya pelajaran, agar kelak saya memikirkan baik-baik segala konsekuensi dari sebuah mimpi, harapan.
Bapak saya benar-benar pergi malam itu, seperti harapan saya. namun, tidak kembali.

hanya satu pesan yang saya kutip dari lagu berjudul HOME, oleh daughtry

" Be careful what you wish for,
'Cause you just might get it all."

Jumat, 23 Januari 2009

TRAGEDI RENCONG

 
Faqih Aulia Akbar Rasyid ( 16 tahun, Jakarta)  
 
Sutra tipis itu menyelimuti langit disaat matahari padam sinarnya, kumandang adzan terdengar diseluruh pelosok tanah kelahirannya. Ia pun bergegas seperti biasanya untuk menunaikkan shalatnya, dan seperti biasanya pula Ia mencium tangan Ibu angkatnya yang Ia panggil Umi. Ia jalan setapak demi setapak dengan langkah yang besar, namun dikala itu setetes air turun perlahan demi perlahan dari langit. Ia mempercepat langkahnya untuk mencapai masjid Al-Muslimin, dan setibanya disana Ia mengikuti shalat tersebut dengan baju yang basah. Setelah menunaikkan shalat, Ia langsung menuju kembali kerumah karena ada perasaan yang mengganjal dari lubuk hatinya. Ia semakin mempercepat langkahnya.  
Daratan ini bergetar dengan hebat dan langit kota itu seperti akan jatuh dari sandarannya, ini terjadi semua orang panik dan pikiran Kemal hanya tertuju pada Ibunya yang sedang terbaring sakit dirumah. Ia sudah tidak dapat melihat apa yang terjadi di sekitarnya, dan getaran itu semakin meretakkan tanah kota itu. Banyak orang yang lari menuju daerah yang lebih tinggi karena air bah akan segera datang, tetapi Kemal tetap saja tidak terganggu pikirannya. 
Sesampainya di rumah ia melihat rumahnya sudah menyatu dengan tanah kota Aceh, ia menangis dan pedih hatinya ketik ia melihat sang Ibu telah pergi. Air bah sudah mulai datang perlahan, dan air tersebut telah dirasakan melewati kakinya ; tidak terpikir oleh Kemal. Ia langsung membawa jenazah sang Ibu ketempat yang lebih tinggi beserta dengan barang yang masih bisa Ia bawa. Dalam gerak langkah yang sangat cepat Ia berpikir bahwa tuhan tidak adil dan tidak menyayanginya ; ia menangis, pilu, dan rasa dendam bercampur menjadi satu. “Dimana kuasaMu Ya Allah ?,” suara hati Kemal. Ia masih tidak ikhlas dan tidak percaya, apa yang ia lihat dan apa yang ia rasakan ; karena semua itu sirna ditelan oleh takdir. 
Hanya dalam beberapa menit, air bah itu menghancurkan kota Aceh nya ; dan dalam beberapa menit pula air bah itu menghilangkan nyawa sang Ibu. Ia masih pasrah dan bingung menghadapi kenyataan ; ketika membawa jenazah sang Bunda, Ia melihat ribuan orang mati hanya dalam sekejap dan meninggal dengan tragis. Kemal terpaku dengan keadaan sekarang dan menunggu pemakaman sang Ibu dilaksanakan.  
Beberapa minggu kemudian, Ia sudah cukup siap untuk bangkit dalam kesedihan ; berjanji untuk memulai hidup baru tanpa sang Ibunda. Dan selama hidupnya Ia selalu mengunjungi pusara Ibunda tercinta. Selamat Jalan Umi.  

Rabu, 14 Januari 2009

Tata Cara publikasi tulisan

Berikut ini tata cara publikasi tulisan pada Write As wings. Kami memang menerima segala bentuk tulisan hasil ekspresi teman-teman namun kami juga akan membaca untuk mengawasi apa-apa saja tulisan yang akan dipublikasikan nantinya. 

1. Sebelumnya teman-teman harus menjadi member dengan cara mengirimkan email ke writeaswings@ymail.com yang berisi nama, TTL,alamat rumah, sekolah,kelas dan deskripsikan diri kalian.Kami tidak memberi batasan berapa panjang maksimal atau minimal tulisan yang teman-teman kirim .

2. Teman-teman boleh menulis mengenai apa saja selama tidak berbau SARA dan pornografi. Namun kami sangat berterima kasih apabila teman-teman mau ikut menulis sesuai dengan tema yang pada saat itu sedang kami ajukan. 

3. Tulisan tidak boleh ditulis menggunakan bahasa singkatan apalagi bahasa singkatan yang banyak digunakan di sms-sms, Tulisan juga tidak akan kami terima apabila teman-teman menuliskannya dalam format huruf Besar kecil tak beraturan(tulisan "gaul").

4.Kami sangat senang apabila teman-teman menyertakan foto yang berkaitan dengan tulisan yang teman-teman buat.  Setiap bulannya kami akan memilih the best writer yang berhak menerima souvenir dari WAW.

5.  Tulisan yang teman-teman buat harap dikirimkan ke writeaswings@ymail.com 

Terima kasih selamat mencoba!

Apa itu Write as wings ?

Write as wings (WAW) adalah social student organization, WAW memiliki arti bahwa menulis kami ibaratkan sebuah sayap dimana dengan tulisan banyak hal yang dapat kami raih meski hanya dari depan layar komputer seperti teman-teman  dan perspektif baru. didirikan pada 13 januari 2009. Keanggotakan kami bersifat sukarela,ada dua tipe keanggotaan yang kami tawarkan apabila teman-teman berpartisipasi dalam WAW, yang pertama teman-teman hanya memilih untuk menjadi member saja( sehingga teman-teman hanya ikut menyumbangkan tulisan, opini atau berpartisipasi dalam topik yang kami bahas) yang kedua teman-teman juga dapat turut serta menjadi volunteer dalam kegiatan-kegiatan sosial yang kami rencanakan. Sebenarnya awal mula pendirian organisasi ini dilatari oleh kekhawatiran kami mengenai rendahnya minat  pelajar pada bidang tulis menulis. Di organisasi ini kita sama-sama belajar menulis dan saling melihat karya satu sama lain. Jangan ragu untuk menulis, mulailah dengan hal sesimpel mungkin seperti tuliskanlah tentang mimpi-mimpimu, kehidupanmu atau hal-hal yang kamu suka. Kami menerima segala bentuk tulisan yang tidak berbau SARA dan pornografi. Buktikan kalau kamu bisa, mulai dari satu kata kami yakin teman-teman akan terus ketagihan menulis kata-kata selanjutnya. Bergabunglah di yahoo group kami Write of wings organization atau facebook group kami di Write of Wings. Kami sangat mengharapkan partisipasi teman-teman baik menjadi member atau pun ikut sebagai volunteer. Akhir kata kami ucapkan banyak terima kasih, Bersenang-senanglah dengan kata-kata!