Senin, 26 Januari 2009

Biggest Dream, Biggest Fear

Arya Satya Nugraha ( 16 tahun)

Saya tidak tahu apa alasannya mengapa saya ingin sekali pindah ke New York City, Saya ingin bekerja sebagai executive di perusahaan media raksasa. Entah film apa yang membuat saya berpikiran seperti itu, yang jelas semenjak SD itulah kehidupan yang saya impikan. Tinggal di Pent house mewah di bilangan Manhattan, Menaiki sedan mewah, mempunyai asisten yang mengurus segala jadwal saya, Diundang ke pesta-pesta  bertaburan pemuka masyarakat, pokoknya persis seperti film-film. Semakin besar saya semakin takut, apakah saya bisa mencapai apa yang saya mau, ketakutan terbesar bukan karna saya takut tak bisa mendapatkan itu semua, tapi dikarnakan siapkah saya menghadapi semua itu? ibaratnya saya akan hidup, diterangi jutaan lampu. Mungkinkah saya akan terlalu silau akan kilau gemilang lampu-lampu itu? Saya takut, saya takut melupakan negeri tempat saya lahir dan dibesarkan, saya takut, takut akan hilangnya kenang-kenangan bersama teman-teman semasa dahulu. Saya takut melupakan keluarga saya, tak pernah berkunjung ke orang tua saya lagi, tak ingat siapa nama panjang saudara kandung saya bahkan tak ingat sama sekali pada sepupu saya. Saya takut semua rasa ketimuran saya hilang berganti. Tak ingat lagi akan semua prinsip yang dianut sejak kecil. Dua hal ini begitu kontradiksi, Satu hal  mengenai mimpi terbesar saya, satu halnya lagi mengenai hal yang paling saya takutkan di dunia ini. Dimana saya masih tetap ada pada tubuh yang sama namun jiwa yang mengisinya sudah berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar