Jumat, 23 Januari 2009
TRAGEDI RENCONG
Faqih Aulia Akbar Rasyid ( 16 tahun, Jakarta)
Sutra tipis itu menyelimuti langit disaat matahari padam sinarnya, kumandang adzan terdengar diseluruh pelosok tanah kelahirannya. Ia pun bergegas seperti biasanya untuk menunaikkan shalatnya, dan seperti biasanya pula Ia mencium tangan Ibu angkatnya yang Ia panggil Umi. Ia jalan setapak demi setapak dengan langkah yang besar, namun dikala itu setetes air turun perlahan demi perlahan dari langit. Ia mempercepat langkahnya untuk mencapai masjid Al-Muslimin, dan setibanya disana Ia mengikuti shalat tersebut dengan baju yang basah. Setelah menunaikkan shalat, Ia langsung menuju kembali kerumah karena ada perasaan yang mengganjal dari lubuk hatinya. Ia semakin mempercepat langkahnya.
Daratan ini bergetar dengan hebat dan langit kota itu seperti akan jatuh dari sandarannya, ini terjadi semua orang panik dan pikiran Kemal hanya tertuju pada Ibunya yang sedang terbaring sakit dirumah. Ia sudah tidak dapat melihat apa yang terjadi di sekitarnya, dan getaran itu semakin meretakkan tanah kota itu. Banyak orang yang lari menuju daerah yang lebih tinggi karena air bah akan segera datang, tetapi Kemal tetap saja tidak terganggu pikirannya.
Sesampainya di rumah ia melihat rumahnya sudah menyatu dengan tanah kota Aceh, ia menangis dan pedih hatinya ketik ia melihat sang Ibu telah pergi. Air bah sudah mulai datang perlahan, dan air tersebut telah dirasakan melewati kakinya ; tidak terpikir oleh Kemal. Ia langsung membawa jenazah sang Ibu ketempat yang lebih tinggi beserta dengan barang yang masih bisa Ia bawa. Dalam gerak langkah yang sangat cepat Ia berpikir bahwa tuhan tidak adil dan tidak menyayanginya ; ia menangis, pilu, dan rasa dendam bercampur menjadi satu. “Dimana kuasaMu Ya Allah ?,” suara hati Kemal. Ia masih tidak ikhlas dan tidak percaya, apa yang ia lihat dan apa yang ia rasakan ; karena semua itu sirna ditelan oleh takdir.
Hanya dalam beberapa menit, air bah itu menghancurkan kota Aceh nya ; dan dalam beberapa menit pula air bah itu menghilangkan nyawa sang Ibu. Ia masih pasrah dan bingung menghadapi kenyataan ; ketika membawa jenazah sang Bunda, Ia melihat ribuan orang mati hanya dalam sekejap dan meninggal dengan tragis. Kemal terpaku dengan keadaan sekarang dan menunggu pemakaman sang Ibu dilaksanakan.
Beberapa minggu kemudian, Ia sudah cukup siap untuk bangkit dalam kesedihan ; berjanji untuk memulai hidup baru tanpa sang Ibunda. Dan selama hidupnya Ia selalu mengunjungi pusara Ibunda tercinta. Selamat Jalan Umi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar