Senin, 26 Januari 2009

Biggest Dream, Biggest Mistake?

Oleh ; Mira Pravitasari ( 16 tahun)

16 Tahun. menuju kedewasaan, seharusnya saya sudah bisa memilah mana yang baik, mana yang buruk, dan mimpi-mimpi kekanak-kanakan yang saya sesali.


Masa kecil saya tidak sebegitu mengerikannya mimpi-mimpi saya di masa itu. Mimpi di sini bukanlah bunga tidur yang menghiasi malam-malam masa kanak-kanak saya, bukan. Hanya cita-cita, impian bodoh yang, terwujud secara tragis.

Lahir dan besar dalam pengaruh keluarga besar suku minang yang berisik, saya merasa asing dengan kebudayaan jawa, kebudayaan bapak saya. Bapak saya adalah orang yang sedikit-bicara-banyak-bekerja, anakmu membangkang, maka, pukullah. dengan setetes-dua tetes air mata, banyak pelajaran diambilnya. Saya tidak suka Bapak. Saya benci, benci, dan tidak peduli padanya. Setiap ia minta peluk-cium, kami, kelima anaknya menjauh.
Ia bangun siang dan berangkat kerja, pulang larut, mengemis dibukakan pintu pada ibu, lalu menonton TV sampai pukul dua malam, tidur, dan mengulangi seluruh prosesnya dalam rutinitas membosankan. Ia memberi separuh nafkah, dan separuhnya ditabung. ditabung untuk, akhirnya dihabiskan seluruhnya, pada mobil BMW second-hand yang hanya menjadi beban keluarga karena mogok dan mogok lagi.
Saya benci Bapak dan seluruh keluarga jawanya. Saya benci eyang yang menambahkan gula pada supnya, yang bilang saya tidak boleh menjilat jari-jari sehabis makan, yang bilang saya bukan anak yang baik.
Saya benci jika lebaran harus berdesakan dalam kereta Argolawu dan ketika sampai, disambut oleh om dan tante yang berbicara dalam bahasa yang saya benci. Saya benci menginap di Klaten yang senyap, yang TVnya hanya mendapat siaran TVRI dan INDOSIAR dalam dunia hitam putih yang anehnya, menakutkan.

Saya menanamkan pikiran idiot, 
Saya benci itu semua, saya benci semua Om dan Tante dan Eyang dan sepupu-sepupu Jawa saya. Saya harap Bapak saya pergi, pergi saja. 

kebencian yang saya sadari, berasal dari kemiripan-kemiripan saya dengan mereka. Terkadang orang yang karakternya mirip, saling membenci, bukan?
tapi tetap saja, saya harap Bapak saya pergi.

Impian yang kemudian terwujud pada malam bulan Agustus yang cerah, yang membuat saya yang berumur sebelas tahun terjaga semalaman, yang di kemudian hari, saya sadar bahwa malam itu adalah saat Allah memberi saya pelajaran, agar kelak saya memikirkan baik-baik segala konsekuensi dari sebuah mimpi, harapan.
Bapak saya benar-benar pergi malam itu, seperti harapan saya. namun, tidak kembali.

hanya satu pesan yang saya kutip dari lagu berjudul HOME, oleh daughtry

" Be careful what you wish for,
'Cause you just might get it all."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar